THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 08 Oktober 2008

WISUDA SARJANA 2008

Tanggal 27 September 2008 STAB Syailendra Semarang menyelenggarakan acara wisuda sarjana untuk yang keduakalinya. Sejumlah 15 wisudawan telah menjadi sarjana dan memperoleh gelar S. Ag. IPK tertinggi diraih oleh Setyaningsih, S. Ag dengan IPK 3.51.

Rabu, 20 Agustus 2008

Penerimaan Mahasiswa Baru

MABA TA.2008/2009

Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra pada hari Selasa, 19 Agustus 2008 telah melaksanakan tes masuk bagi Mahasiswa Baru. Mahasiswa yang mengikuti tes adalah sebanyak 12 anak.

by. Chooey

Rabu, 27 Februari 2008

Catur Widyaningsih

CINTA, KEPEDULIAN, dan BUDDHISME

Bulan Februari adalah bulan yang dinanti-nanti oleh banyak orang di belahan dunia. Hal ini disebabkan dalam bulan ini terdapat tanggal dan hari yang sangat istimewa. Empat belas Februari, yah...tanggal ini sudah tidak asing lagi. Hal ini karena biasanya orang-orang memperingati hari ini sebagai hari kasih sayang atau sering kita kenal sebagai hari Valentine.
Coklat, warna pink/merah, tukar kado, dan tebar kasih sayang adalah adalah hal yang tidak terlalu jauh dari Valentine. Semuanya bertemakan love, love, dan love. Jika ditelusuri lebih jauh, ada semacam benang merah antara valentine dengan judul tulisan ini. Apa hubungannya? Jawabannya adalah, valentine identik dengan cinta. Kepedulian harus dilandasi dengan cinta. Buddhisme bercirikan cinta yang universal dan kepedulian terhadap sesama.
Dhamma itu sungguh indah. Dhamma mengajarkan kita untuk berbagi cinta dan mengembangkan sikap peduli terhadap semua makhluk. Tetapi Dhamma menjadi kabur maknanya dan hanya sebagai hiasan belaka. Mengapa? karena Dhamma hanya sebatas dibaca, dipelajari, dan diperdebatkan agar kelihatan intelek saja. Lalu kapan prakteknya?
Buddha telah mengajarkan kita semua untuk bersikap peduli terhadap penderitaan orang lain. Sikap Karuna atau welas asih sebaiknya kita memilikinya setiap saat. Jadi, kita pun berhak untuk mempunyai sikap karuna. Bukan hanya seorang Arahat saja yang dapat mempunyai sikap Karuna.
Tetapi, yang terjadi pada saat ini justru hal yang "lucu". Mengapa? Orang awam yang biasa saja, yang jauh dari kesucian, justru bersikap seolah-olah dia Arahat atau dengan kata lain "sok bijak". Apa yang dilakukan ketika melihat orang menderita? Apa yang dilakukan ketika melihat orang kecelakaan di jalan?. Alih-alih memberikan sikap peduli terhadap penderitaan orang lain, yang dikatakan adalah "Wah orang itu sedang memetik karma buruknya!". Kadang memang benar dan bijak kalimat seperti itu, tetapi di sini yang salah adalah ketika orang mengatakan hal itu ia kemudian berlalu dengan tenang dan santai. Lalu, dimanakah kepeduliannya?
Kepedulian menjadi hal yang sangat mahal sekarang ini. Bicara mengenai kepedulian, jangan berpikir bahwa yang namanya peduli, ditujukan hanya untuk mereka yang terkena musibah yang besar saja. Contohnya; banjir, tanah longsor, kelaparan, dll. Lihatlah hal-hal yang kecil di sekeliing kita. Kepedulian memperhatikan masalah orang-orang di sekeliling kita membiasakan kita untuk peduli terhadap hal-hal yang lebih besar dan mengikis ego kita. Tetapi, yang terjadi ketika orang-orang di sekeliling kita mengalami masalah adalah kita cenderung membicarakannya tetapi tidak memberi solusi atau sekedar sedikit hiburan.
Tentunya kita tidak ingin berdiri di barisan simpatisan Dhamma yang hanya mengagumi Dhamma saja bukan? Tetapi kita semua tentunya ingin berpartisipasi aktif dalam Dhamma, yang tidak hanya aktif dalam organisasi saja tetapi dengan menjadi praktisi Dhamma.
Buka hati dengan menanam cinta universal, menabur bibit kepedulian sebagai wujud insan Dhamma. Lihat sekeliling, ulurkan tangan untuk peduli mulai dari hal-hal kecil di sekeliling kita.


Selasa, 19 Februari 2008

BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA

KEPENGURUSAN BADAN EKSEKUTIF MAHASISWA
TAHUN KEPENGURUSAN 2007/2008

Ketua
Catur Widyaningsih

Wakil Ketua

Herman

Sekretaris
Evi

Nok Sriyanti

Bendahara
Sugiyanti

Murniati


Sie.Bid. Pendidikan dan Pemberdayaan Mahasiswa

Slamet Waluyono
Susanto

Sie.Bid. Keagamaan

Jumiah
Iis Sugiarti

Sie.Bid. Usaha Dana

Suko Doyo
Wisnu Vitriana
Kisruh

Sie.Bid. Dokumentasi dan Publikasi

Suwiyanto
Priyono

Sie.Bid. Koperasi

Karni
Ambariyah

Sie.Bid. Kesenian

Jayarko
Tato

Sie.Bid. Humas

Totok
Meta Yoni

Sie.Bid. Olahraga
Wawan Daryoko
Rika Suryawati

Kho Tjandrawati

Pressure And Pleasure Of Raising Children

To start with, let's go through the lines written by Khalil Gibran: Your children are not your children. They are the sons and daughters of life's longing for itself. They come throught you but not from you. and throught they are with you yet they belong not to you. You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
Parents and children, or family is the smallest social unit which has the duty to continue and to improve the next generation. In doing so, both of them will undergo pressure and pleasure. What needs to be done is decreasing the pressure and increasing the pleasure on both the parents and the children.
Undoubtedly, most parents love and cherish their children. parents will sacrifice their time, money and leisure to make the well-being and happiness of their children. unfortunately, in this modern materialistic world, influences and pressure have given heavier and heavier burdens to parents. It even threatens to tear the family apart.
Children are exposed to a wide range of expectation, consumption patterns and demands by their peers in school, environment, or other activities featured in advertisment throught the mass media which parents are forced to fulfill. We often hear sad news telling that teenagercommits suicide because the parents cannot his or her wish. To make matter worse, such teenagers usually belong to a not-well-to-do families in which parents are economiccaly weak. they are exposed to economic insecurity of being laid off by the company or having no jobs. There is sometimes a gap between parents are concerning their difference in age, interest, education, and idea. Consequenly, parents as the breadwinners must cope with psichological demands.
Most parents have their wordly expectation and will feel a sense of failure if their children do not ie up to them. Parents will demand that their children attain high score in their school subjects regardless of their capability. Parents believe that by achieving high score their children can find good jobs which lead them to material attainment, while spiritual values are sadly neglected. Having well-paid job and climbing up the social ladder are stressed more than virtues such as gratitude, honesty, integrity, kindness, and tolerance.
Parents, without thinking of the consequences, encourage, and even force their children to work hard, to compete and to excel for what the class 'success' while neglecting the need to establish an inner peace with themselves.
Whether the children have the interest or not, they are expected to go to the school which the parents think best, under he misguided belief that it is very important for success and happiness. Won't it be wise to see the children's talent and provide the activites in accordance to their talent and ability?
Success and happiness do not lie in mastering such accomplistment alone. If parents really love and care with their children, they should not place the children under such pressure, as they can give rise to emotional insecurity in their adulthood. It is he parents "responsibility to recognize the children's talents, gifts and aptitudes and train them according to their mentality to do the best they can for their benefit and others". In this way, parents have prepared their children to be happy, successful, and considerate adult with integrity.

JADUAL KEGIATAN

JADUAL KEGIATAN BEM STAB SYAILENDRA

Pujabhakti Bersama
Setiap hari Selasa, pukul 19.00-21.00

Pujabhakti Anjangsana
Di rumah umat Buddha sekitar
Setiap hari Rabu, pukul 19.00-21.00

Pujabhakti Pagi
Setiap hari Kamis, pukul 05.00-06.00

Bedah Film
Setiap hari Kamis, pukul 19.00-21.00

Debat Akademik
Setiap hari Jumat, pukul 19.00-21.00

Sekolah Minggu
Setiap hari Minggu, pukul 08.00-10.00

Olah Raga
Setiap sore hari, pukul 16.00-18.00