THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Rabu, 27 Februari 2008

Catur Widyaningsih

CINTA, KEPEDULIAN, dan BUDDHISME

Bulan Februari adalah bulan yang dinanti-nanti oleh banyak orang di belahan dunia. Hal ini disebabkan dalam bulan ini terdapat tanggal dan hari yang sangat istimewa. Empat belas Februari, yah...tanggal ini sudah tidak asing lagi. Hal ini karena biasanya orang-orang memperingati hari ini sebagai hari kasih sayang atau sering kita kenal sebagai hari Valentine.
Coklat, warna pink/merah, tukar kado, dan tebar kasih sayang adalah adalah hal yang tidak terlalu jauh dari Valentine. Semuanya bertemakan love, love, dan love. Jika ditelusuri lebih jauh, ada semacam benang merah antara valentine dengan judul tulisan ini. Apa hubungannya? Jawabannya adalah, valentine identik dengan cinta. Kepedulian harus dilandasi dengan cinta. Buddhisme bercirikan cinta yang universal dan kepedulian terhadap sesama.
Dhamma itu sungguh indah. Dhamma mengajarkan kita untuk berbagi cinta dan mengembangkan sikap peduli terhadap semua makhluk. Tetapi Dhamma menjadi kabur maknanya dan hanya sebagai hiasan belaka. Mengapa? karena Dhamma hanya sebatas dibaca, dipelajari, dan diperdebatkan agar kelihatan intelek saja. Lalu kapan prakteknya?
Buddha telah mengajarkan kita semua untuk bersikap peduli terhadap penderitaan orang lain. Sikap Karuna atau welas asih sebaiknya kita memilikinya setiap saat. Jadi, kita pun berhak untuk mempunyai sikap karuna. Bukan hanya seorang Arahat saja yang dapat mempunyai sikap Karuna.
Tetapi, yang terjadi pada saat ini justru hal yang "lucu". Mengapa? Orang awam yang biasa saja, yang jauh dari kesucian, justru bersikap seolah-olah dia Arahat atau dengan kata lain "sok bijak". Apa yang dilakukan ketika melihat orang menderita? Apa yang dilakukan ketika melihat orang kecelakaan di jalan?. Alih-alih memberikan sikap peduli terhadap penderitaan orang lain, yang dikatakan adalah "Wah orang itu sedang memetik karma buruknya!". Kadang memang benar dan bijak kalimat seperti itu, tetapi di sini yang salah adalah ketika orang mengatakan hal itu ia kemudian berlalu dengan tenang dan santai. Lalu, dimanakah kepeduliannya?
Kepedulian menjadi hal yang sangat mahal sekarang ini. Bicara mengenai kepedulian, jangan berpikir bahwa yang namanya peduli, ditujukan hanya untuk mereka yang terkena musibah yang besar saja. Contohnya; banjir, tanah longsor, kelaparan, dll. Lihatlah hal-hal yang kecil di sekeliing kita. Kepedulian memperhatikan masalah orang-orang di sekeliling kita membiasakan kita untuk peduli terhadap hal-hal yang lebih besar dan mengikis ego kita. Tetapi, yang terjadi ketika orang-orang di sekeliling kita mengalami masalah adalah kita cenderung membicarakannya tetapi tidak memberi solusi atau sekedar sedikit hiburan.
Tentunya kita tidak ingin berdiri di barisan simpatisan Dhamma yang hanya mengagumi Dhamma saja bukan? Tetapi kita semua tentunya ingin berpartisipasi aktif dalam Dhamma, yang tidak hanya aktif dalam organisasi saja tetapi dengan menjadi praktisi Dhamma.
Buka hati dengan menanam cinta universal, menabur bibit kepedulian sebagai wujud insan Dhamma. Lihat sekeliling, ulurkan tangan untuk peduli mulai dari hal-hal kecil di sekeliling kita.


0 komentar: