Saddhā sebagai Prasyarat Awal Tindakan Religius Agama Buddha
Oleh: Jumi’ah
1. Konsep Keyakinan dalam Agama Buddha
Agama Buddha memiliki konsep keyakinan dengan istilah saddhā yang sepadan dengan kata iman dalam ajaran agama lain. Berbagai khotbah Buddha menekankan pentingnya saddhā terhadap Buddha, ajaran-Nya (Dhamma), dan Saṅgha (para siswa Buddha yang telah berhasil dalam praktik Dhamma). Buddha dapat diibaratkan sebagai dokter, sedangkan Dhamma adalah obat yang ditawarkan, dan Saṅgha adalah pasien yang telah sembuh karena mengkonsumsi obat tersebut yang kemudian dapat menjadi perawat bagi orang lain.
Saddhā adalah keyakinan terhadap Tiratana yang disertai pengertian benar, bukan keyakinan yang membuta. Hal ini seperti hasil analisis Jayatilleke (dalam Tilakaratne, 1997: 594) yang menyebutkan bahwa saddhā dalam praktik religius Buddhis bukanlah keyakinan tanpa dasar (amūlikā saddhā) tetapi sebuah keyakinan yang beralasan (ākāŗavatī saddhā). Pengertian yang benar terhadap suatu keyakinan, dapat diperoleh melalui ehipassiko yang artinya “datang dan lihatlah” (Widya, 2005: 41). Buddha dalam Alagaddupama Sutta, Majjhima Nikāya II (Horner, 2000: 171-172) menjelaskan bahwa seseorang yang telah mempelajari Dhamma harus memeriksa arti ajaran-ajaran itu dengan kebijaksanaan, sehingga mendapatkan pengertian yang sebenarnya.
Vīmaṁsaka Sutta, Majjhima Nikāya I (Horner, 2000: 379) menjelaskan agar umat Buddha tidak langsung percaya dan yakin dengan apa yang dikatakan orang tentang Buddha. Tetapi harus melakukan penyelidikan mengenai Tathāgata sehubungan dengan dua jenis keadaan, yaitu melalui apa yang dilihat dan didengar. Sehubungan dengan apa yang dilihat adalah tindakan-tindakan jasmani Buddha. Sedangkan sehubungan dengan yang didengar adalah ucapan-ucapan Buddha. Tindakan jasmani dan ucapan cukup mewakili bagaimana pikiran Buddha, karena pikiran mendahului apa yang diperbuat dan diucap. Setelah adanya penyelidikan dan pembuktian maka akan timbul keyakinan dalam diri, yang mantap dan tak mudah tergoyahkan oleh siapapun di dunia.
Pada masa sekarang kebenaran tentang kesempurnaan Buddha dapat diketahui dari kesaksian orang lain, belajar dari guru, maupun dari Kitab Suci. Pengamatan secara kritis terhadap mereka yang menjalankan ajaran Buddha akan membantu pembuktian kesempurnaan Buddha. Keyakinan akan menjadi semakin kuat melalui pengalaman, yaitu setelah mendapatkan manfaat dari ajaran yang dipraktikkan. Seperti di dalam Milinda Pañha (Pesala, 1998: 24) yang menjelaskan bahwa meskipun Buddha sudah tidak ada, baik di sini maupun di sana, tetapi sejarah keberadaan-Nya dapat dikenali dari ajaran-ajaran yang telah dibabarkan serta siswa-siswa-Nya yang telah merealisasi kebenaran.
2. Objek Saddhā
a. Keyakinan terhadap Buddha
Buddha (Pāli-English Dictionary, 1992: 488), berarti, ”one who has attained enlightenment” yang artinya seseorang yang telah mencapai Penerangan Sempurna. Buddha memiliki sembilan kualitas yaitu Yang Mahasuci (arahaṁ), Yang telah Mencapai Penerangan Sempurna dengan usaha sendiri (sammāsambuddho), Sempurna Pengetahuan serta Tindak-tanduk-Nya (vijjācaraṇa sampanno), Sempurna Menempuh Jalan ke Nibbāna (sugato), Pengenal Segenap Alam (lokavidū), Pembimbing Manusia yang Tiada Taranya (anuttaro purisaddhammasārathi), Guru para Dewa dan Manusia (satthā devamanussānaṁ), Yang Sadar (Buddho), Yang Patut Dimuliakan (Bhagava).
Keyakinan terhadap Buddha, bukanlah memuja fisik Buddha, melainkan meneladani sifat-sifat-Nya. Ibarat seorang buta yang membutuhkan orang lain yang memiliki penglihatan jelas untuk menunjukkan arah, kemana si buta hendak pergi. Jadi orang buta tersebut tetap berjalan sendiri menuju tujuan yang hendak dicapai. Demikianlah, keyakinan terhadap Buddha akan membantu siswa-siswa-Nya untuk mencapai pantai seberang, yaitu terbebas dari penderitaan. Atau dapat diumpamakan ada seorang yang menderita sakit, dan ingin berobat. Sebelum orang tersebut menemui dokter, ia telah mendengar dari orang-orang akan reputasi dokter tersebut, sehingga muncul keyakinan pada dirinya bahwa dokter itu akan mampu mengobati penyakitnya. Dengan keyakinan itu pula, pasien ini akan patuh kepada nasihat-nasihat yang diberikan oleh dokter. Keyakinannya terhadap dokter tersebut semakin kuat seiring dengan kesembuhannya setelah mengikuti nasihat-nasihat dokter itu. Demikian juga keyakinan terhadap Buddha merupakan awal bagi keyakinan terhadap Dhamma, seperti keyakinan kepada dokter mengawali keyakinan terhadap obat yang diberikan.
b. Keyakinan terhadap Dhamma
Dhamma sebagai objek keyakinan yang kedua memiliki enam sifat agung, yaitu: Dhamma telah dibabarkan sempurna oleh Bhagavā (Svākkhāto Bhagavatā Dhammo), berada sangat dekat (sandiṭṭhiko), tidak dibatasi oleh waktu (akāliko), mengundang untuk dibuktikan (ehipassiko), menuntun ke arah pembebasan (opanayiko), dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing (paccataṁ veditabbo viññuhi). Dhamma adalah jalan hidup yang benar untuk kedamaian dan kebahagiaan semua makhluk hidup. Dhamma merupakan suatu metode untuk lepas dari penderitaan dan menemukan pembebasan. Dhamma kerap diibaratkan sebagai sebuah rakit yang digunakan untuk menyeberang, jadi bukan untuk dipegang saja. Demikian juga, Dhamma akan membawa suatu makhluk untuk dapat melampaui samudera penderitaan jika Dhamma dipraktikkan. Buddha menyebutkan di dalam Alagaddūpama Sutta, Majjhima Nikāya I (Horner, 2000: 173), bahwa Dhamma adalah alat untuk mencapai Kebahagiaan Tertinggi.
Keyakinan umat Buddha terhadap Dhamma tidak bersifat pasif semata melainkan aktif dan dinamis, dalam arti perlu dipelajari, dihayati, dan dipraktikkan atau dibuktikan kebenarannya. Jika Buddha adalah sebagai penunjuk jalan, maka Dhamma adalah alat untuk berjalan. Seperti khotbah Buddha di dalam kitab Dhammapada (Norman, 2004: 41), bahwa Tathāgata hanyalah sebagai Penunjuk Jalan, semua makhluk harus berusaha sendiri untuk dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai Nibbāna. Dhamma bersifat praktis yang menghantar individu mencapai Pembebasan.
c. Keyakinan terhadap Saṅgha
Saṅgha adalah Pasamuan para bhikkhu suci yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian (Ariya Saṅgha). Saṅgha menjadi teladan yang patut dicontoh, yaitu kemampuan mereka untuk mencapai tingkat-tingkat kesucian yang dapat pula dicapai oleh makhluk-makhluk lain. Saṅgha memiliki sembilan sifat yang menjadikan mereka lebih mulia dibandingkan mereka yang belum merealisasi Dhamma, yaitu: siswa Bhagavā yang berperilaku baik (Supaṭipanno Bhagavato Sāvakasaṅgho), berperilaku lurus (ujupaṭipanno), berperilaku benar (ñāyapaṭipanno), berperilaku patut (sāmīcipaṭipanno), patut menerima pujaan (Āhuneyyo), patut menerima sambutan (pāhuneyyo), patut menerima persembahan (dakkhiṇeyyo), patut dihormati (añjalikaraṇīyo), lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta (anuttara puññakkhettam lokassa). Keluhuran yang dimiliki Saṅgha dapat memberikan pemahaman kepada mereka yang yakin, mengenai hidup untuk berbuat lebih baik dengan meninggalkan hal-hal tidak bajik yang dapat menyebabkan penderitaan.
Tiratana menempatkan Buddha paling awal karena Buddha adalah yang terkemuka di antara semua mahkluk. Dhamma disebut yang kedua karena ditemukan dan dibawakan oleh Buddha. Saṅgha disebut sebagai yang ketiga karena mereka adalah siswa Buddha yang melaksanakan Dhamma. Namun, ketiganya bukan merupakan hal yang terpisah. Tiratana dapat diibaratkan seperti matahari yang memancarkan sinar untuk menerangi dunia, jika matahari adalah Buddha, sinarnya adalah Dhamma, maka terangnya dunia adalah Saṅgha.
3. Cara Mengembangkan Saddhā
Saddhā bermula seperti sebuah tunas di ladang. Jika tunas ini mendapatkan sinar matahari dan air yang cukup, maka dapat tumbuh kuat dan sehat. Melalui akar, tunas ini menyerap gizi dari tanah dan air, sehingga batangnya semakin tumbuh dan memberikan biji. Biji akan menghasilkan benih-benih baru yang semakin banyak. Meskipun sudah tumbuh besar sebuah pohon tetap membutuhkan perawatan agar tidak menjadi layu dan mati. Seperti tunas di ladang, keyakinan juga merupakan benih. Keyakinan akan semakin mantap dengan disertai moralitas sebagai akarnya. Benih keyakinan ini akhirnya akan menumbuhkan tunas ketenangan dan kebijaksanaan. Dengan menyerap gizi ketenangan dan pandangan terang melalui akar moralitas, keyakinan tumbuh melalui batang jalan mulia untuk menghasilkan buah-buah kemuliaan. Hal ini seperti yang dijelaskan Buddha kepada seorang petani keturunan Bhāradvāja, yang terdapat di dalam kitab Saṁyutta Nikāya I (Bodhi, 2000: 267). Perawatan keyakinan adalah melalui kecermatan dan ketelatenan dalam latihan.
Cūḷahatthipadopama Sutta (Horner, 2000: 221-229 ) menyebutkan terdapat empat hal yang dapat menumbuhkan keyakinan terhadap Tiratana, antara lain: mendengar kualitas-kualitas Buddha dari orang lain, kemudian melihat siswa-siswa Buddha yang telah berhasil. Setelah melalui dua hal ini, maka mendorong seorang perumah tangga untuk mendatangi Buddha dan mendengarkan khotbah Dhamma. Mendengar khotbah Dhamma akan memunculkan pengertian, yang kemudian mendorong seseorang memohon untuk menjadi siswa Buddha. Setelah menjadi siswa, maka akan melakukan praktik Dhamma seperti yang didengar, sehingga berhasil dalam pencapaian suci.
Jadi, pada dasarnya, keyakinan dapat terbentuk dan berkembang dari belajar Dhamma, serta mempraktikkannya.
4. Saddhā sebagai Prasyarat Awal Tindakan Religius Agama Buddha
Tiratana adalah sumber inspirasi untuk melatih diri bagi mereka yang memiliki saddhā. Saddhā terhadap Tiratana akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan yang melemahkan keserakahan, kebencian, dan kegelapan batin, karena Tiratana telah terbebas dari ketiganya. Di dalam Aṅguttara Nikāya III (Hare, 2001: 34) terdapat beberapa hal yang dapat diperoleh sebagai manfaat dari keyakinan, yaitu: dicintai oleh orang-orang mulia; ketika berkunjung ke suatu tempat, akan mendapat sambutan yang pertama, akan mendapatkan persembahan yang pertama, dan mendapatkan kesempatan membabarkan ajaran kebenaran yang pertama; setelah kematiannya akan terlahir kembali di alam surga. Kitab Dhammapada (Norman, 2004: 44) menyebutkan bahwa mereka yang memiliki keyakinan dan moral yang baik, akan memperoleh nama harum dan kekayaan, serta akan menjadi terhormat di manapun berada. Keyakinan kepada Tiratana juga disebut arus jasa kebajikan, arus yang bermanfaat, makanan untuk kebahagiaan, yang bersifat surgawi, yang matang dalam kebahagiaan, menyebabkan terlahir di alam surga, dan membawa pada pencapaian seperti yang diinginkan, dicintai dan disenangi oleh makhluk lain. Ālavaka Sutta dari kitab Saṁyutta Nikāya I (Bodhi, 2002: 315) menjelaskan bahwa keyakinan adalah harta karun manusia yang terindah. Keyakinan menghasilkan kebahagiaan duniawi (lokiya) maupun luar duniawi (lokuttara). Kebahagiaan duniawi berhubungan dengan perolehan kekayaan, wajah rupawan, nama baik dan kesehatan. Sedangkan kebahagiaan luar duniawi berhubungan dengan perolehan kebijaksanaan, pencapaian kesucian batin dan berakhirnya penderitaan.
Saddhā memberikan manfaat-manfaat yang demikian karena mengawali seseorang untuk berpraktik tindakan religius di dalam agama Buddha. Pada dasarnya, Dhamma Buddha dikelompokkan menjadi tiga latihan, yaitu: sīla (moral), samādhi (konsentrasi), dan paññā (kebijaksanaan). Tiga hal ini dapat dijalankan dengan baik jika seseorang telah menaruh keyakinan kepada Tiratana. Keyakinan terhadap Tiratana yang dilandasi dengan pemahaman benar akan menjadi motivasi yang kuat dalam memulai dan menjalani praktik kebenaran. Kehendak untuk melakukan praktik ini muncul dari dalam diri sendiri tanpa paksaan dari pihak manapun. Kemudian seiring dengan praktik ini maka pemahaman atau pengertian semakin kuat karena hasil praktik akan segera dirasakan. Semakin kuatnya pengertian, maka akan semakin kuat pula praktik, yang akan membawa manfaat sebesar-besarnya.
Cūḷahatthipadopama Sutta dari kitab Majjhima Nikāya I (Horner, 2000: 224), menyebutkan bahwa ketika seseorang mendengarkan khotbah Buddha yang indah pada awal, tengah, dan akhir, muncul keyakinan terhadap Buddha pada diri orang tersebut. Keyakinan ini mengatasi segala keragu-raguan terhadap Buddha dan Dhamma. Berdasarkan keyakinannya itu, orang tersebut bertekad untuk menjalani kehidupan suci. Setelah melepaskan keduniawian, maka ia mulai mempraktikkan peraturan-peraturan dan latihan dalam ke-bikkhu-an, serta bersemangat dalam menjalankan ajaran Buddha. Suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan keyakinan, meskipun berat, akan menjadi ringan, karena dijalani dengan kemantapan hati dan kesadaran dari dalam diri sendiri untuk melaksanakannya. Seorang bhikkhu yang menjalani kehidupan suci karena keyakinan, akan melatih diri atas dasar pemahaman bahwa ia memang harus berlatih, bukan karena atas dasar untuk mematuhi peraturan yang diberikan Buddha.
Bagi umat awam, mereka yang melatih lima sīla karena keyakinan, akan menyadari betapa pentingnya menjalankan latihan itu, karena lima sīla merupakan aturan alamiah yang harus dilatih oleh setiap orang yang memiliki pemahaman bahwa setiap makhluk menginginkan kondisi yang aman dan nyaman. Sebuah pemahaman bahwa setiap makhluk mencintai kehidupannya, mencintai kekayaannya, mencintai pasangannya, mencintai kejujuran, dan tidak menyukai tindakan mabuk-mabukan. Pemahaman yang demikian akan menjadikan seseorang memiliki keyakinan, sehingga dengan sepenuh hati menjalankan lima latihan alamiah tersebut. Setelah memiliki sīla yang baik dengan didukung saddhā yang mantap, maka umat Buddha akan lebih mudah dalam melatih samādhi nya. Latihan samādhi yang dijalankan dengan penuh keyakinan akan menumbuhkan paññā sebagai cara untuk mencapai terbebasnya penderitaan, Nibbāna.
Referensi:
Bodhi, Bhikkhu. 2000. The Connected Discourses of The Buddha (Saṁyutta Nikāya) I. Oxford: The Pali Text Society.
Davids, Rhys. 1992. The Pāli Text Society’s Pāli-English Dictionary. Oxford: The Pāli Text Society.
Hare, E. M. 2001. The Book of The Gradual Sayings (Aṅguttara Nikāya) III. Oxford: The Pali Text Society.
Horner, I. B. 2000. The Middle Lenght Saying (Majjhima Nikāya) I. Oxford: The Pali Text Society.
__________. 2002. The Middle Lenght Saying (Majjhima Nikāya) II. Oxford: The Pali Text Society.
Norman, K. R. 2004. The Word Of The Doctrine (Dhammapada). Oxford: The Pali Text Society.
Pesala, Bhikkhu (Ed.). 1998. The Debate Of King Milinda (Milinda Pañha). Delhi: Motilal Banarsidass Publishers.
Tilakaratne, Asanga. 1997. Saddhā: A Prerequisite of Religious Action: Recent Researches in Buddhist Studies (edited by Karunadasa). Hongkong: Chi Ying Foundation.
Widya, Dharma K. 2005. Kompilasi Istilah Buddhis. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.
Selasa, 26 Mei 2009
ARTIKEL
Diposting oleh warta syailendra di 10.53
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar